Senin, 20 Mei 2013

Mencari Satria Piningit


Masih sekaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional, hari yang diperingati setiap tanggal 20 Mei, yang ditandai dengan awal bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul sejak Indonesia dijajah selama 350 tahun. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Yang jelas bahwa kebangkitan nasional saat itu dipelopori oleh sejumlah tokoh yang memiliki pemikiran dan sikap membela kepentingan Negara. 

Dalam satu kesempatan, penulis berbincang dengan Dosen ilmu pemerintahan dan politik, Prof.Dr.Kausar Bailusy,MA dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Ia menyayangkan Negara yang sudah 67 tahun merdeka ini, belum mampu melahirkan sosok yang memiliki sikap dan jiwa membela Negara.

mereka negarawan bukan politisi
Yang lebih celaka lagi, katanya, partai politik yang seharusnya menjadi tempat menggodok kader pemimpin bangsa, ternyata tidak mampu membina calon pemimpin yang baik. “Partai politik justru menjadi tempat bersaing dan hanya menjadi tempat bagi sekelompok orang menyiapkan bosnya, urusan intelektual dan integritas tidak penting.
Padahal dari parpol itulah seharusnya lahir sosok-sosok yang mampu dan siap membangun Negara, bukan membangun kelompok semata,”katanya.

Lanjut penulis memperolah pernyataan senada dari Pakar ilmu sosial di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin,Makassar, Dr. H. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd., M.Si. Ia menyebutkan negeri ini meridukan sosok negarawan, seorang publik figur yang memiliki obsesi besar mengelola Negara, berwibawa, bijaksana, visioner, jujur dan berintegritas. “Cara dan pola pikir negarawan itu wajib mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas urusan pribadi dan kelompoknya, memang kita lihat setelah Soekarno, kita tidak lagi memiliki tokoh yang memiliki kepedulian besar untuk kemajuan bersama. Kalaupun ada, hampir pasti tidak memiliki kesempatan berkarya, atau mungkin belum,”kata Sukardi.

Sebagian pengamat menilai nasib bangsa ini celaka tigabelas, dari waktu ke waktu silih berganti tokoh demi tokoh tampil menjadi pemimpin negeri, namun semuanya adalah tokoh politisi, yang sibuk memikirkan partainya sendiri, lupa dengan urusan Negara, padahal ditangannya sedang tergenggam mandat rakyat.

Ki Roni Sodewo, kepada penulis menukil bait terakhir ramalan Joyoboyo tentang beberapa sifat seorang negarawan, 

"Nglurug tanpa bala, yen menang tan ngasorake, para kawula padha suka-suka, marga adiling pangeran wus teka, ratune nyembah kawula, angagem trisula wedha, para pandhita hiya padha muja, hiya iku momongane kaki Sabdopalon, sing wis adu wirang nanging kondhang, genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngresula kurang, hiya iku tandane kalabendu wis minger, centi wektu jejering kalamukti, andayani indering jagad raya, padha asung bhekti,"

Arinya : Pemberani, mendatangi musuh tanpa membawa tentara, menang tanpa merendahkan, rakyat bersuka cita, karena keadilan Tuhan telah datang di tangan pemimpin yang menghargai rakyat, memegang tombak bermata tiga (Trias Politika) dalam genggamannya. Bahkan para pemimpin agama juga mengidolakannya, dia adalah asuhan sabdopalon (Sabdopalon adalah masyarakat; artinya dia tumbuh dan dididik oleh kehidupan masyarakat) pernah dipermalukan tetapi tetap terkenal, tidak pernah mengeluh.

JK tetap senyum
Ki Roni Sodewo, yang merupakan generasi ketujuh dari Pangeran Diponegoro ini, menyebut dua tokoh di Indonesia saat ini yang memiliki sifat negarawan, yakni Jusuf Kalla dan Mahfud MD. “JK sering datang ke tempat konflik tanpa harus membawa tentara, beliau memberi solusi, di manapun dia hadir disambut dengan hati tenang, JK sangat menghormati orang kecil bahkan tidak segan mencium tangan anak-anak kecil, dan mahfud MD sangat faham trias Politika, kaum pemimpin agama manapun mau duduk satu meja dengan mereka, mereka bukan dari golongan ningrat, tetapi berhati ningrat, JK maupun Mahfud sering dipermalukan tetapi tetap tersenyum,”katanya.
(Khairil Anas/Sulsel 3A)

0 komentar:

Posting Komentar

Sewa Vila

Sewa Vila
vila murah 2kamar