Masih sekaitan dengan
Hari Kebangkitan Nasional, hari yang diperingati setiap tanggal 20 Mei, yang
ditandai dengan awal bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme
serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya
tidak pernah muncul sejak Indonesia dijajah selama 350 tahun. Masa ini ditandai
dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908)
dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak
politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.
Yang jelas bahwa
kebangkitan nasional saat itu dipelopori oleh sejumlah tokoh yang memiliki
pemikiran dan sikap membela kepentingan Negara.
Dalam satu kesempatan, penulis berbincang dengan Dosen ilmu pemerintahan dan politik, Prof.Dr.Kausar Bailusy,MA dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Ia menyayangkan Negara yang sudah 67 tahun merdeka ini, belum mampu melahirkan sosok yang memiliki sikap dan jiwa membela Negara.
Dalam satu kesempatan, penulis berbincang dengan Dosen ilmu pemerintahan dan politik, Prof.Dr.Kausar Bailusy,MA dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Ia menyayangkan Negara yang sudah 67 tahun merdeka ini, belum mampu melahirkan sosok yang memiliki sikap dan jiwa membela Negara.
![]() |
| mereka negarawan bukan politisi |
Yang lebih celaka lagi,
katanya, partai politik yang seharusnya menjadi tempat menggodok kader pemimpin
bangsa, ternyata tidak mampu membina calon pemimpin yang baik. “Partai politik justru
menjadi tempat bersaing dan hanya menjadi tempat bagi sekelompok orang menyiapkan
bosnya, urusan intelektual dan integritas tidak penting.
Padahal dari parpol itulah seharusnya lahir sosok-sosok yang mampu dan siap membangun Negara, bukan membangun kelompok semata,”katanya.
Padahal dari parpol itulah seharusnya lahir sosok-sosok yang mampu dan siap membangun Negara, bukan membangun kelompok semata,”katanya.
Lanjut penulis
memperolah pernyataan senada dari Pakar ilmu sosial di Universitas Islam Negeri
(UIN) Alauddin,Makassar, Dr. H. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd., M.Si. Ia menyebutkan
negeri ini meridukan sosok negarawan, seorang publik figur yang memiliki obsesi
besar mengelola Negara, berwibawa, bijaksana, visioner, jujur dan
berintegritas. “Cara dan pola pikir negarawan itu wajib mendahulukan
kepentingan bangsa dan negara di atas urusan pribadi dan kelompoknya, memang
kita lihat setelah Soekarno, kita tidak lagi memiliki tokoh yang memiliki
kepedulian besar untuk kemajuan bersama. Kalaupun ada, hampir pasti tidak
memiliki kesempatan berkarya, atau mungkin belum,”kata Sukardi.
Sebagian pengamat
menilai nasib bangsa ini celaka tigabelas, dari waktu ke waktu silih berganti
tokoh demi tokoh tampil menjadi pemimpin negeri, namun semuanya adalah tokoh
politisi, yang sibuk memikirkan partainya sendiri, lupa dengan urusan Negara,
padahal ditangannya sedang tergenggam mandat rakyat.
Ki Roni Sodewo, kepada penulis menukil bait terakhir ramalan Joyoboyo tentang beberapa sifat
seorang negarawan,
"Nglurug tanpa bala, yen menang tan ngasorake, para kawula padha suka-suka, marga adiling pangeran wus teka, ratune nyembah kawula, angagem trisula wedha, para pandhita hiya padha muja, hiya iku momongane kaki Sabdopalon, sing wis adu wirang nanging kondhang, genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngresula kurang, hiya iku tandane kalabendu wis minger, centi wektu jejering kalamukti, andayani indering jagad raya, padha asung bhekti,"
"Nglurug tanpa bala, yen menang tan ngasorake, para kawula padha suka-suka, marga adiling pangeran wus teka, ratune nyembah kawula, angagem trisula wedha, para pandhita hiya padha muja, hiya iku momongane kaki Sabdopalon, sing wis adu wirang nanging kondhang, genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngresula kurang, hiya iku tandane kalabendu wis minger, centi wektu jejering kalamukti, andayani indering jagad raya, padha asung bhekti,"
Arinya : Pemberani, mendatangi
musuh tanpa membawa tentara, menang tanpa merendahkan, rakyat bersuka cita,
karena keadilan Tuhan telah datang di tangan pemimpin yang menghargai rakyat, memegang
tombak bermata tiga (Trias Politika) dalam genggamannya. Bahkan para pemimpin
agama juga mengidolakannya, dia adalah asuhan sabdopalon (Sabdopalon adalah
masyarakat; artinya dia tumbuh dan dididik oleh kehidupan masyarakat) pernah
dipermalukan tetapi tetap terkenal, tidak pernah mengeluh.
![]() |
| JK tetap senyum |
Ki Roni Sodewo, yang merupakan generasi ketujuh dari Pangeran Diponegoro ini, menyebut dua tokoh di Indonesia saat ini yang memiliki sifat negarawan, yakni
Jusuf Kalla dan Mahfud MD. “JK sering datang ke tempat konflik tanpa harus
membawa tentara, beliau memberi solusi, di manapun dia hadir disambut dengan
hati tenang, JK sangat menghormati orang kecil bahkan tidak segan mencium
tangan anak-anak kecil, dan mahfud MD sangat faham trias Politika, kaum
pemimpin agama manapun mau duduk satu meja dengan mereka, mereka bukan dari
golongan ningrat, tetapi berhati ningrat, JK maupun Mahfud sering dipermalukan
tetapi tetap tersenyum,”katanya.
(Khairil Anas/Sulsel 3A)
(Khairil Anas/Sulsel 3A)




0 komentar:
Posting Komentar