Sabtu, 27 April 2013

Nostalgia Bis Tingkat



Pete-pete mendominasi
Di tengah gencarnya pemerintah kota Makassar mencari cara untuk mengurangi kesemrawutan lalu-lintas, muncul sejumlah ide untuk mengurangi volume angkutan kota. Angkutan kota yang di Makassar dikenal dengan nama “pete-pete” disebut-sebut sebagai biang kemacetan lalu-lintas.

Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kota Makassar, jumlah “pete-pete” yang beroperasi di kota Makassar saat ini ada sebanyak 4.113 unit yang beroperasi di 16 trayek dan dikelola oleh 17 perusahaan.

Tapi baiklah, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang pete-pete Makassar. Namun satu hal yang unik adalah munculnya ide mengoperasikan kembali Mobil Bertingkat sebagai salah satu moda transportasi massal, yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan warga kota Makassar terhadap angkutan umum jenis pete-pete dan beralih menggunakan mobil bertingkat.

Boleh jadi pengoperasian kembali Bis bertingkat dapat menjadi sebuah solusi mengurangi kemacetan dan kesemrawutan lalu-lintas di ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar ini.

Banyak tentu di antara kita yang masih memiliki kenangan nostalgia dengan mobil tingkat yang mulai digunakan pertama kali pada tahun 1983 itu. Atas inisiatif ibu Tien Soeharto dengan tujuan yang sama, bahwa untuk mengangkut lebih banyak orang tanpa mengoperasikan terlalu banyak angkutan.

Cocok untuk Transportasi Massal
Tahun 1987 jumlah bis tingkat yang beroperasi semakin banyak, bermula di kota Solo dioperasikan 30 unit. Lalu menjalar ke sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Makassar.

Punah dan Tinggal Kenangan
Saya termasuk orang yang memiliki kenangan indah dengan mobil tingkat yang bernama DAMRI tersebut. Tahun 1988 merupakan awal keberadaan saya di kota Makassar, setelah pindah dari kota Kabupaten di Soppeng. Saya masih ingat betul tarifnya jauh-dekat Rp 150, lalu setahun kemudian naik menjadi Rp 300, dan terakhir menjadi Rp 1.000 saat menjelang kepunahannya di tahun 1999.

Bis tingkat ini dikelola oleh Damri. Moda transportasi ini memiliki keuntungan, yakni menghemat space jalan. Dengan jumlah penumpang yang dimuat oleh satu armada bis tingkat adalah lebih banyak, dua puluh kali lipat daripada armada angkot biasa, dengan kapasistas penumpang sekitar 105 orang penumpang duduk, ditambah penumpang yang berdiri bisa mencapai 200 orang penumpang, bandingkan dengan pete-pete atau angkutan kota jenis mikrolet yang maksimal hanya mampu mengangkut 8 sampai 10 orang. Sangat cocok untuk moda transportasi massal, yang tujuannya untuk mengurangi kemacetan lalu-lintas.

Cukup dengan 9 trayek, transportasi massal yang murah dan ramah lingkungan itu dapat melayani penumpang dari ujung barat kota hingga ujung timur kota Makassar. Saya masih ingat ketika itu, meskipun sudah ada beberapa angkutan mikrolet, namun kebanyakan warga Makassar lebih memilih naik Damri bertingkat. Kita dengan nyaman bisa menunggu sambil duduk-duduk di halte yang disediakan, Selain itu, naik bis tingkat juga bisa menjadi sarana refresing, dengan naik di lantai dua, kita dapat leluasa menikmati suasana Kota Makassar sepanjang perjalanan.

Bisa menampung 200 penumpang
Sayang sekali keberadaan bis Damri bertingkat ini yang mulai berkurang di tahun 1997/1998, semakin lama semakin habis akibat termakan usia, imbas krisis moneter yang melanda ketika itu menyebabkan sulitnya perusahaan Damri melakukan peremajaan. Hingga akhirnya di tahun 2000 Damri bertingkat ini habis sama sekali, berganti dengan Damri model bis biasa yang tidak bertingkat, yang hanya mampu bertahan beberapa tahun. Sampai tahun 2006 bis Damri benar-benar punah. Angkutan kota jenis pete-pete atau mikrolet pun seketika menguasai trayek di kota Makassar. 
(Penulis : Khairil Anas / Sulsel 3A)

0 komentar:

Posting Komentar

Sewa Vila

Sewa Vila
vila murah 2kamar