Di tengah gencarnya pemerintah kota
Makassar mencari cara untuk mengurangi kesemrawutan lalu-lintas, muncul
sejumlah ide untuk mengurangi volume angkutan kota. Angkutan kota yang di Makassar dikenal dengan nama “pete-pete” disebut-sebut sebagai biang kemacetan lalu-lintas.
Berdasarkan data dari Dinas
Perhubungan Kota Makassar, jumlah “pete-pete” yang beroperasi di kota Makassar
saat ini ada sebanyak 4.113 unit yang beroperasi di 16 trayek dan dikelola oleh
17 perusahaan.
Tapi baiklah, saya tidak akan
membahas lebih jauh tentang pete-pete Makassar. Namun satu hal yang unik adalah
munculnya ide mengoperasikan kembali Mobil Bertingkat sebagai salah satu moda
transportasi massal, yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan warga kota
Makassar terhadap angkutan umum jenis pete-pete dan beralih menggunakan mobil
bertingkat.
Boleh jadi pengoperasian kembali Bis
bertingkat dapat menjadi sebuah solusi mengurangi kemacetan dan kesemrawutan
lalu-lintas di ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar ini.
Banyak tentu di antara kita yang
masih memiliki kenangan nostalgia dengan mobil tingkat yang mulai digunakan
pertama kali pada tahun 1983 itu. Atas inisiatif ibu Tien Soeharto dengan
tujuan yang sama, bahwa untuk mengangkut lebih banyak orang tanpa
mengoperasikan terlalu banyak angkutan.
![]() |
| Cocok untuk Transportasi Massal |
Tahun 1987 jumlah bis tingkat yang
beroperasi semakin banyak, bermula di kota Solo dioperasikan 30 unit. Lalu menjalar
ke sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Makassar.
![]() |
| Punah dan Tinggal Kenangan |
Saya termasuk orang yang memiliki
kenangan indah dengan mobil tingkat yang bernama DAMRI tersebut. Tahun 1988
merupakan awal keberadaan saya di kota Makassar, setelah pindah dari kota
Kabupaten di Soppeng. Saya masih ingat betul tarifnya jauh-dekat Rp 150, lalu setahun
kemudian naik menjadi Rp 300, dan terakhir menjadi Rp 1.000 saat menjelang
kepunahannya di tahun 1999.
Bis tingkat ini dikelola oleh Damri.
Moda transportasi ini memiliki keuntungan, yakni menghemat space jalan.
Dengan jumlah penumpang yang dimuat oleh satu armada bis tingkat adalah lebih
banyak, dua puluh kali lipat daripada armada angkot biasa, dengan kapasistas
penumpang sekitar 105 orang penumpang duduk, ditambah penumpang yang berdiri bisa
mencapai 200 orang penumpang, bandingkan dengan pete-pete atau angkutan kota
jenis mikrolet yang maksimal hanya mampu mengangkut 8 sampai 10 orang. Sangat
cocok untuk moda transportasi massal, yang tujuannya untuk mengurangi kemacetan
lalu-lintas.
Cukup dengan 9 trayek, transportasi
massal yang murah dan ramah lingkungan itu dapat melayani penumpang dari ujung
barat kota hingga ujung timur kota Makassar. Saya masih ingat ketika itu,
meskipun sudah ada beberapa angkutan mikrolet, namun kebanyakan warga Makassar
lebih memilih naik Damri bertingkat. Kita dengan nyaman bisa menunggu sambil
duduk-duduk di halte yang disediakan, Selain itu, naik bis tingkat juga bisa
menjadi sarana refresing, dengan naik di lantai dua, kita dapat leluasa
menikmati suasana Kota Makassar sepanjang perjalanan.
![]() |
| Bisa menampung 200 penumpang |
Sayang sekali keberadaan bis Damri
bertingkat ini yang mulai berkurang di tahun 1997/1998, semakin lama semakin
habis akibat termakan usia, imbas krisis moneter yang melanda ketika itu
menyebabkan sulitnya perusahaan Damri melakukan peremajaan. Hingga akhirnya di
tahun 2000 Damri bertingkat ini habis sama sekali, berganti dengan Damri model
bis biasa yang tidak bertingkat, yang hanya mampu bertahan beberapa tahun.
Sampai tahun 2006 bis Damri benar-benar punah. Angkutan kota jenis pete-pete
atau mikrolet pun seketika menguasai trayek di kota Makassar.
(Penulis : Khairil Anas / Sulsel 3A)
(Penulis : Khairil Anas / Sulsel 3A)




0 komentar:
Posting Komentar