Sejenak saya tercenung
dan iseng-iseng menulis tentang “Sandal Jepit” ini, beberapa saat setelah
merampungkan sesi wawancara dengan seorang gadis belia berusia 24 tahun, yang bekerja di salah satu hotel berbintang di kota Makassar.
Usianya masih sangat
muda belia, namun saya menilai pemikirannya cukup matang. Ida, begitu dia
memperkenalkan diri sebelum bertutur mengenai cita-cita besarnya ingin ikut
memberikan andil dalam pembangunan bangsa, memperjuangkan kesejahteraan rakyat,
dengan cara mendaftar sebagai calon legislative. Ia berangkat dari sebuah
tagline “Sandal Jepit”.
“Yah, Sandal Jepit
mengandung filosofi kerakyatan. Seindah apapun modelnya dan semahal berapapun
harganya, tetap ajha tempatnya di bawah, sebagai alas dan pelindung kaki. Rakyat
juga demikian, siapapun dia, apapun pangkatnya, tetap harus diperlakukan sama,
tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah, karena rakyatlah
pelindung Negara yang sebenarnya”begitu katanya.
Baik, kita tinggalkan
Mba Ida dengan filosofi sandal jepitnya, sambil menggaris bawahi kalimat, “Sandal,
seindah apapun dan semahal apapun dia, tempatnya tetap di bawah sebagai alas
dan pelindung kaki.
Baik, kalimat itu saya
buat makin mengerucut pada kata, “Pelindung kaki”. Sandal atau alas kaki,
adalah tumpuan kaki pemakainya, yang melindungi sekaligus mempercantik kaki
pemakainya, namun harus mau mencium tanah, menjejak becek, bahkan pula kotoran.
Manfaatnya besar namun posisinya paling rendah.
Sandal melindungi kaki tanpa
kita harus mengenakan kaos kaki lagi. Berbeda dengan sepatu, yang bila tidak
dilapisi kaos kaki, bahkan akan membuat tumit kaki menjadi lecet. Saya sering
berpikir fungsi sepatu itu sebenarnya buat apa. Kalau benar tujuannya untuk
melindungi kaki, mengapa kita malah harus memakai kaus kaki untuk melindungi
kaki dari lecet karena sepatu. Jadi fungsi sepatu bukanlah untuk
melindungi kaki, karena jika dipakai tanpa kaus, sepatu akan membahayakan kaki. Lantas,
buat apa?
Entah sejak kapan peradaban
manusia mulai dipengaruhi oleh sepatu, maksudnya, manusia tampak lebih beradab dan
sopan bila memakai sepatu, dan siapa juga yang menanamkan pendapat seperti itu?
Semua
penduduk dunia tiba-tiba menyepakati bahwa sepatu menyimbolkan kerapihan, lalu
semua sekolah, kampus dan kantor kemudian membuat aturan wajib mengenakan
sepatu dan larangan mengenakan sandal. Semua mahasiswa didisiplinkan untuk memakai sepatu di dalam
kampus. Semua kantor melarang karyawannya memakai sandal, dan itulah yang
kemudian menjadi budaya. Jadi orientasinya hanya
untuk kelihatan rapi? Apakah hanya dengan bersepatu saja mahasiswa akan
kelihatan rapi dan bersih? Saya pikir tidak lah…!
Yang ingin kita luruskan adalah, orientasi pemakaian
sepatu bukan untuk melindungi kaki, tetapi hanya untuk terlihat rapi, ada nilai estetika
dan sebagai simbol formal yang diakui dunia.
“Kami ingin mendidik
kalian menjadi orang yang terbiasa beradaptasi dengan dunia luar nantinya. Ini
sudah jadi peraturan, dan sudah berlaku. Kalian harus memakai sepatu semua,
warnanya harus hitam dan jangan ada yang memakai sandal, sebab itu akan merusak
keindahan!” kata-kata itu seketika terngiang kembali di telinga saya. Sebuah instruksi
yang disampaikan kepala sekolah saya di Sekolah Dasar di tahun 1985 atau 28
tahun yang lampau.
Saya yang tidak mampu
beli sepatu baru ketika itu, terpaksa harus memakai sepatu lama, meskipun jahitan
depannya sudah terbuka menganga lebar.
Dalam renungan saya tiba-tiba tersadar, bahwa sejak kecil kita memang telah
dididik untuk bergaul dengan orang-orang bersepatu di kantor-kantor
internasional. Bukan dididik untuk bisa beradaptasi dan merasakan perihnya
hidup 79 juta saudara-saudara kita yang sangat bersyukur ketika bisa makan satu
kali dalam sehari dan tidak punya sepatu.
Renungan saya makin jauh
melabung, bahkan mungkin telah menyentuh dinding istana Negara atau pagar kokoh
gedung DPR, pantas saja birokrasi di negeri ini sulit melihat hal yang
substansi, dan hanya terjebak pada formalitas yang menjemukan dan mubadzir.
Wajar saja, bila mendapatkan nama besar, mempertahankan status sebagai negeri
yang kaya dan terunggul jauh lebih penting daripada mengembangkan pemberdayaan
rakyat.
Orientasi
para petinggi negeri hanyalah bagaimana cara untuk mensejahterakan dirinya
sendiri, ,mengutamakan kelompok dan bukan untuk kesejahteraan rakyat. Bukan
untuk pembebasan rakyat dari ketertindasan, persis seperti sepatu yang
dikenakannya, mengkilap,rapi namun salah sedikit membuat lecet kaki pemakainya.
(Penulis:
Khairil Anas / Sulsel 3A)



0 komentar:
Posting Komentar