Minggu, 28 April 2013

Sandal Jepit


Sejenak saya tercenung dan iseng-iseng menulis tentang “Sandal Jepit” ini, beberapa saat setelah merampungkan sesi wawancara dengan seorang gadis belia berusia 24 tahun, yang bekerja di salah satu hotel berbintang di kota Makassar.

Usianya masih sangat muda belia, namun saya menilai pemikirannya cukup matang. Ida, begitu dia memperkenalkan diri sebelum bertutur mengenai cita-cita besarnya ingin ikut memberikan andil dalam pembangunan bangsa, memperjuangkan kesejahteraan rakyat, dengan cara mendaftar sebagai calon legislative. Ia berangkat dari sebuah tagline “Sandal Jepit”.

“Yah, Sandal Jepit mengandung filosofi kerakyatan. Seindah apapun modelnya dan semahal berapapun harganya, tetap ajha tempatnya di bawah, sebagai alas dan pelindung kaki. Rakyat juga demikian, siapapun dia, apapun pangkatnya, tetap harus diperlakukan sama, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah, karena rakyatlah pelindung Negara yang sebenarnya”begitu katanya.

Baik, kita tinggalkan Mba Ida dengan filosofi sandal jepitnya, sambil menggaris bawahi kalimat, “Sandal, seindah apapun dan semahal apapun dia, tempatnya tetap di bawah sebagai alas dan pelindung kaki.

Baik, kalimat itu saya buat makin mengerucut pada kata, “Pelindung kaki”. Sandal atau alas kaki, adalah tumpuan kaki pemakainya, yang melindungi sekaligus mempercantik kaki pemakainya, namun harus mau mencium tanah, menjejak becek, bahkan pula kotoran. Manfaatnya besar namun posisinya paling rendah.

Sandal melindungi kaki tanpa kita harus mengenakan kaos kaki lagi. Berbeda dengan sepatu, yang bila tidak dilapisi kaos kaki, bahkan akan membuat tumit kaki menjadi lecet. Saya sering berpikir fungsi sepatu itu sebenarnya buat apa. Kalau benar tujuannya untuk melindungi kaki, mengapa kita malah harus memakai kaus kaki untuk melindungi kaki dari lecet karena sepatu. Jadi fungsi sepatu bukanlah untuk melindungi kaki, karena jika dipakai tanpa kaus, sepatu akan membahayakan kaki. Lantas, buat apa?

Entah sejak kapan peradaban manusia mulai dipengaruhi oleh sepatu, maksudnya, manusia tampak lebih beradab dan sopan bila memakai sepatu, dan siapa juga yang menanamkan pendapat seperti itu?

Semua penduduk dunia tiba-tiba menyepakati bahwa sepatu menyimbolkan kerapihan, lalu semua sekolah, kampus dan kantor kemudian membuat aturan wajib mengenakan sepatu dan larangan mengenakan sandal. Semua mahasiswa  didisiplinkan untuk memakai sepatu di dalam kampus. Semua kantor melarang karyawannya memakai sandal, dan itulah yang kemudian menjadi budaya. Jadi orientasinya hanya untuk kelihatan rapi? Apakah hanya dengan bersepatu saja mahasiswa akan kelihatan rapi dan bersih? Saya pikir tidak lah…!

Yang ingin kita luruskan adalah, orientasi pemakaian sepatu bukan untuk melindungi kaki, tetapi  hanya untuk terlihat rapi, ada nilai estetika dan sebagai simbol formal yang diakui dunia.

“Kami ingin mendidik kalian menjadi orang yang terbiasa beradaptasi dengan dunia luar nantinya. Ini sudah jadi peraturan, dan sudah berlaku. Kalian harus memakai sepatu semua, warnanya harus hitam dan jangan ada yang memakai sandal, sebab itu akan merusak keindahan!” kata-kata itu seketika terngiang kembali di telinga saya. Sebuah instruksi yang disampaikan kepala sekolah saya di Sekolah Dasar di tahun 1985 atau 28 tahun yang lampau.

Saya yang tidak mampu beli sepatu baru ketika itu, terpaksa harus memakai sepatu lama, meskipun jahitan depannya sudah terbuka menganga lebar. 

Dalam renungan saya tiba-tiba tersadar, bahwa sejak kecil kita memang telah dididik untuk bergaul dengan orang-orang bersepatu di kantor-kantor internasional. Bukan dididik untuk bisa beradaptasi dan merasakan perihnya hidup 79 juta saudara-saudara kita yang sangat bersyukur ketika bisa makan satu kali dalam sehari dan tidak punya sepatu.

Renungan saya makin jauh melabung, bahkan mungkin telah menyentuh dinding istana Negara atau pagar kokoh gedung DPR, pantas saja birokrasi di negeri ini sulit melihat hal yang substansi, dan hanya terjebak pada formalitas yang menjemukan dan mubadzir. Wajar saja, bila mendapatkan nama besar, mempertahankan status sebagai negeri yang kaya dan terunggul jauh lebih penting daripada mengembangkan pemberdayaan rakyat.

Orientasi para petinggi negeri hanyalah bagaimana cara untuk mensejahterakan dirinya sendiri, ,mengutamakan kelompok dan bukan untuk kesejahteraan rakyat. Bukan untuk pembebasan rakyat dari ketertindasan, persis seperti sepatu yang dikenakannya, mengkilap,rapi namun salah sedikit membuat lecet kaki pemakainya.
(Penulis: Khairil Anas / Sulsel 3A)

0 komentar:

Posting Komentar

Sewa Vila

Sewa Vila
vila murah 2kamar