Pisang Epe Makassar Peredam Rindu

Bila anda menginjakkan kaki di kota Makassar, sempatkanlah berjalan-jalan mengitari kota Anging Mammiri, nama lain dari kota Makassar yang bermakna angin sepoi-sepoi. Cukup dengan duduk-duduk di pelataran pantai Losari, kita sudah bisa menikmati semilirnya Anging Mammiri.

Danjen: Kopassus adalah Senjata Negara

Tak seorang pun bisa menghancurkan Kopassus yang berdiri sejak 61 tahun silam itu. Demikian ditegaskan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) TNI Angkatan Darat Mayjen TNI Agus Sutomo, dalam acara peringatan HUT ke-61 Kopassus di Jakarta Timur, Selasa

Judi Hobby Atau Kebutuhan

Tidak bisa dipungkiri maraknya perjudian didunia bahkan ada negara yang melegalkan perjudian sehingga mulai anak-anak sampai orang dewasa bebas melakukan perjudian

KONDOM

Alat ini dijual bebas di mini market-mini market bahkan etalasenya pun paling depan sejajar dengan permen. yang notabene anak-anak senang berburu permen.

Jalanan Kota

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat mendorong pabrikan kendaraan terus mengeluarkan berbagai varian kendaraan tanpa memperhatikan tata kota yang semakin menyempit.

Minggu, 23 Juni 2013

LAPORAN KEBAKARAN LAHAN / HUTAN


Tanggal Hari Kejadian Waktu Laporan Tempat Kejadian
1 20-06-2013 Kamis 21.00 WIB Kebakaran lahan di Perkemahan Pramuka sekitar kantor Wali Kota (Perwira)
2 21-06-2013 Jumat 14.50 WIB Kel. Tanjung Palas RT.12 luas lahan 60 Ha (Lahan Kosong di belakang STT)
3 21-06-2013 Jumat 15.15 WIB Kel. Mekar Sari KM 21 Kampung Sejati KM 9 (Warga diungsikan sebanyak 20 KK)
4 21-06-2013 Jumat 16.50 WIB Kel. Pelintung Pertanian Terpadu (6 hari lahan terbakar)
        Kel. Guntung di jalan POLSEK Medang Kampai Ujung
5 21-06-2013 Jumat 14.50 WIB Kel. Pelintung dari PT. Wilmar + 1 KM arah ke Sei Pakning
6 22-06-2013 Sabtu 14.30 WIB Kel. Teluk Binjai lokasi lahan Pertamina
7 22-06-2013 Sabtu 11.00 WIB Apel siaga bersama manggala agni, TNI, POLRI, ORMAS yang dihadiri Walikota Dumai, Bupati Bengkalis bersama Menteri Kehutanan RI
8 22-06-2013 Sabtu 20.10 WIB Terjadi kebakaran rumah sebanyak 5 unit  rumah di Gg. Rantau Jaya Mukti. Api dapat dikendalikan jam 22.00 WIB
9 23-06-2013 Minggu 09.00 WIB Terjadi kebakaran lahan di Lubuk Gaung
10 23-06-2013 Minggu 12.05 WIB Terjadi Kebakaran lahan didekat pemukiman rumah warga di Kelurahan Bumi Ayu, Jl. Gunung Selamat Ujung
11 23-06-2013 Minggu 14.42 WIB Kebakaran lahan sawit di Parit 2, Suka Bumi, Lubuk Gaung Hektar ?
12 23-06-2013 Minggu 19.10 WIB Kebakaran lahan di Basilam Baru di RT.09, RT.13, RT.14, RT.21, RT.22 sebanyak + 800 Ha.
Seerkor macan tutul tertangkap, karena masuk rumah warga setelah kakinya terbakar,dilokasi kebakaran lahan daerah lubuk gaung , mampu Nerbit Besar
dan Masih ada Induk macan Sumatra membawa anak2nya 3 ekor berjalan2 di kawasan warga karena kebingungan hampir lokasi di sekitar kebakar semua
Besok pagi Senkom tetap di ajak terjun langsung lagi ke titik api. Demikian laporan sementara langsung dari Posko BPBD kota Dumai.

Kamis, 20 Juni 2013

PRESIDEN PERINTAHKAN KEPALA BNPB PEGANG KENDALI PENANGANAN BENCANA ASAP


 kepada KeKepala BNPB, Syamsul Maarif, telah melaporkan kepada Presiden secara langsung perkembangan bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan di wilayah Riau yang menyebabkan menurunnya kualitas udara dan jarak pandang di Singapura pada Kamis (20/6/2013) sekitar pukul 19.00 Wib. Presiden memerintahkanpala BNPB untuk memegang kendali penanganan bencana asap tersebut, dan dilakukan secepatnya dengan melibatkan potensi nasional yang ada. Kepala BNPB juga menyampaikan kepada Presiden tiga strategi dalam penanganan bencana asap tersebut yaitu: pertama, pemadaman kebakaran lahan dan hutan di daratan; kedua, pemadaman di udara melalui water bombing menggunakan helicopter dan hujan buatan menggunakan pesawat terbang; dan ketiga, sosialisasi dan penegakan hukum. Presiden menyetujui strategi tersebut dan agar dilakukan secepatnya. Menindaklanjuti hal tersebut Kepala BNPB telah berkoordinasi dengan Menkokesra, Panglima TNI dan Kapolri. Besok pagi (Jumat, 21/6/2013) 2 pesawat Casa 212 akan diterbangkan ke Pekanbaru, yaitu pesawat TNI AU dari Lanud Halim Perdanakusumah dan pesawat BPPT yang saat ini berada di Banjarmasin. Pesawat Hercules C-130 TNI AU juga dipersiapkan untuk mendukung hujan buatan tersebut. Rencana Jumat sore akan diterbangkan dari Lanud Husein Sastranegara Bandung ke Pekanbaru jika pemasangan peralatan selesai dilakukan. Pada malam hari ini juga (Kamis, 20/6/2013 pukul 22.00 wiB) bahan semai dikirim ke Pekanbaru. Selain itu juga diberangkatkan personil dan peralatan untuk mendukung operasi hujan buatan. Masih disiapkan 2 buah helicopter untuk water bombing. Koordinasi dan persiapan masih dilakukan hingga saat ini oleh BNPB bersama TNI, Kementerian/Lembaga, Pemda dan pihak lainnya.

Jumat, 07 Juni 2013

angklung, kesenian tradisional jabar



Kamis, 06 Juni 2013

Wakapolri : Intisari Kamtibmas adalah Merugi untuk Orang Lain



“Rekan-rekan sekalian…! saya menggunakan kata rekan-rekan, agar kita makin dekat. Mari kita sejenak menanggalkan semua pangkat, status, jabatan dan kedudukan kita di sini. Seringkali jabatan, institusi dan kedudukan yang berbeda menjadi masalah dan membuat tujuan Negara ini kacau. Setiap kali kita mendengarkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, setiap saat kita mendengarkan lagu Mars Senkom, Hymne Senkom yang menggugah semangat. Mari kita jadikan itu sebagai falsafah dalam jiwa kita, dalam dada dan benak kita, menjadi landasan kita dalam bersikap dan perprilaku. Jangan jadikan lagu itu hanya menjadi penghias bibir saja, dan bahkan sikap dan tingkah laku kita bertentangan dengan apa yang kita teriakkan dalam lagu itu,”
Demikian pesan wakil kepala polri, Komisaris Jenderal Nanan Soekarna, saat bertindak sebagai pembina dalam upacara penutupan Diklatnas Kamtibmas dan Telematika, yang berlangsung di kompleks Yayasan Minhajirosyiidin, Pondok Gede,Lubang Buaya, Jakarta Timur, Kamis (11/4/2013) lalu.
Wakapolri mengaku bangga dengan keluarga besar Senkom Mitra Polri yang mampu menggelar kegiatan yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia, dengan biaya yang cukup besar tanpa meminta bantuan dari pihak manapun.
“Rekan-rekan sekalian, kita boleh berwawasan global, namun fikiran kita harus tetap nasional, dan sikap kita berlandaskan pada kearifan lokal. Wawasan global diperlukan agar wawasan kita luas dan siap menghadapi tantangan apapun, namun fikiran nasional tetap harus menjadi landasan kita dalam bertindak sesuai kearifan lokal masing-masing, seperti yang kita teriakkan  NKRI Harga mati,” lanjut jenderal bintang tiga itu.
Menurutnya, kesalahan bangsa ini dalam menyikapi perkembangan global merupakan salah satu penyebab rusaknya system pengamanan dalam negeri, yang terlalu menonjolkan hak hukum secara pribadi dan terlalu bersifat individual. Padahal ada kewajiban hukum dan kewajiban asasi secara umum yang perlu mendapatkan prioritas utama dalam bermasyarakat.
“Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, hak hukum secara pribadi harus dikesampingkan dan mengutamakan hak orang lain, ini yang perlu menjadi perhatian kita dalam menegakkan keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI. Silakan perjuangkan hak pribadi masing-masing, namun jangan lupa bahwa kita memiliki kewajiban untuk menghargai hak-hak orang lain. Kalau boleh kita merugi untuk orang lain, sebab di situlah hakikinya kebahagiaan,” tegasnya.
Wakapolri yang berbicara di hadapan ribuan personil Senkom Mitra Polri dari seluruh penjuru Nusantara menegaskan, inti dari penegakan kamtibmas adalah bersedia merugi untuk orang lain .
“Merugi untuk kebahagiaan orang lain, berani mengorbankan jiwa, harta, tenaga untuk sesama adalah pangkal dari terwujudnya keamanan dan ketertiban masyarakat. Saya berharap kepada rekan-rekan sepulang dari diklatnas ini, agar dapat menerapkan sikap itu di tengah masyarakat, agar tercipta keamanan dan ketertiban seperti yang kita harapkan.” Lanjut wakapolri sambil menyarankan terbentuknya Senkom Wanita.
Lebih jauh, wakapolri mengatakan kebanyakan gangguan kamtibmas yang terjadi di tengah masyarakat saat ini dipicu oleh aksi saling rebutan hak, rebutan harta, rebutan kedudukan dan jabatan.
“Harta, kedudukan, pangkat dan jabatan itu semua sifatnya sementara. Mari kita abaikan semua itu, hindari saling rebutan hak, saling rebutan posisi dan kedudukan, dijamin keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat akan terwujud, saya berharap kepada Senkom yang jumlahnya 1,7 juta orang di seluruh Nusantara ini, untuk menjadi pelopor terwujudkan kamtibmas di negeri ini,” lanjutnya.
Lebih jauh orang nomor dua di Mabes Polri ini mengajak anggota senkom untuk mewujudkan kamtibmas dari hal-hal yang ringan, “Kamtibmas itu tidak muluk-muluk, cukup kita menanamkan dalam hati sanubari masing-masing untuk membahagiakan orang lain. Kamtibmas itu terwujud dari hal-hal yang mudah, di mulai dari lingkungan sekitar.”
Selain persoalan kamtibmas, wakapolri yang juga merupakan ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) itu menitipkan pesan kepada personil senkom untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu-lintas. Berdasarkan data di kepolisian, setiap tahun sebanyak 30.000 orang meninggal di jalan raya, karena pelanggaran aturan dan etika berlalu-lintas.
“Saya minta kepada seluruh anggota Senkom Mitra Polri untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu-lintas. Sekaligus mengawasi jalannya pemerintahan. Awasi pemerintah, awasi polisi, sebab pejabat publik adalah pelayan masyarakat yang wajib memuaskan pelanggan, pelanggannya siapa? Masyarakat adalah pelanggan yang wajib kami layani.”katanya.
Tiga hal pokok yang disampaikan wakapolri saat menutup diklatnas Telematika dan Kamtibmas Senkom Mitra Polri 2013 yang berlangsung tiga hari itu, yakni pemeliharaan kamtibmas dalam bingkai NKRI, penegakan hukum dan keselamatan berlalu-lintas.
Wakapolri mengakhiri pidato dalam upacara penutupan tersebut dengan menyampaikan 7 Budi Utama, yakni Jujur terpercaya, bertanggungjawab,visioner,disiplin,kerjasama, adil dan peduli, sambil mengucapkan selamat kepada seluruh anggota Senkom Mitra Polri.

Wakapolri : Intisari Kamtibmas adalah Merugi untuk Orang Lain



“Rekan-rekan sekalian…! saya menggunakan kata rekan-rekan, agar kita makin dekat. Mari kita sejenak menanggalkan semua pangkat, status, jabatan dan kedudukan kita di sini. Seringkali jabatan, institusi dan kedudukan yang berbeda menjadi masalah dan membuat tujuan Negara ini kacau. Setiap kali kita mendengarkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, setiap saat kita mendengarkan lagu Mars Senkom, Hymne Senkom yang menggugah semangat. Mari kita jadikan itu sebagai falsafah dalam jiwa kita, dalam dada dan benak kita, menjadi landasan kita dalam bersikap dan perprilaku. Jangan jadikan lagu itu hanya menjadi penghias bibir saja, dan bahkan sikap dan tingkah laku kita bertentangan dengan apa yang kita teriakkan dalam lagu itu,”
Demikian pesan wakil kepala polri, Komisaris Jenderal Nanan Soekarna, saat bertindak sebagai pembina dalam upacara penutupan Diklatnas Kamtibmas dan Telematika, yang berlangsung di kompleks Yayasan Minhajirosyiidin, Pondok Gede,Lubang Buaya, Jakarta Timur, Kamis (11/4/2013) lalu.
Wakapolri mengaku bangga dengan keluarga besar Senkom Mitra Polri yang mampu menggelar kegiatan yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia, dengan biaya yang cukup besar tanpa meminta bantuan dari pihak manapun.
“Rekan-rekan sekalian, kita boleh berwawasan global, namun fikiran kita harus tetap nasional, dan sikap kita berlandaskan pada kearifan lokal. Wawasan global diperlukan agar wawasan kita luas dan siap menghadapi tantangan apapun, namun fikiran nasional tetap harus menjadi landasan kita dalam bertindak sesuai kearifan lokal masing-masing, seperti yang kita teriakkan  NKRI Harga mati,” lanjut jenderal bintang tiga itu.
Menurutnya, kesalahan bangsa ini dalam menyikapi perkembangan global merupakan salah satu penyebab rusaknya system pengamanan dalam negeri, yang terlalu menonjolkan hak hukum secara pribadi dan terlalu bersifat individual. Padahal ada kewajiban hukum dan kewajiban asasi secara umum yang perlu mendapatkan prioritas utama dalam bermasyarakat.
“Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, hak hukum secara pribadi harus dikesampingkan dan mengutamakan hak orang lain, ini yang perlu menjadi perhatian kita dalam menegakkan keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI. Silakan perjuangkan hak pribadi masing-masing, namun jangan lupa bahwa kita memiliki kewajiban untuk menghargai hak-hak orang lain. Kalau boleh kita merugi untuk orang lain, sebab di situlah hakikinya kebahagiaan,” tegasnya.
Wakapolri yang berbicara di hadapan ribuan personil Senkom Mitra Polri dari seluruh penjuru Nusantara menegaskan, inti dari penegakan kamtibmas adalah bersedia merugi untuk orang lain .
“Merugi untuk kebahagiaan orang lain, berani mengorbankan jiwa, harta, tenaga untuk sesama adalah pangkal dari terwujudnya keamanan dan ketertiban masyarakat. Saya berharap kepada rekan-rekan sepulang dari diklatnas ini, agar dapat menerapkan sikap itu di tengah masyarakat, agar tercipta keamanan dan ketertiban seperti yang kita harapkan.” Lanjut wakapolri sambil menyarankan terbentuknya Senkom Wanita.
Lebih jauh, wakapolri mengatakan kebanyakan gangguan kamtibmas yang terjadi di tengah masyarakat saat ini dipicu oleh aksi saling rebutan hak, rebutan harta, rebutan kedudukan dan jabatan.
“Harta, kedudukan, pangkat dan jabatan itu semua sifatnya sementara. Mari kita abaikan semua itu, hindari saling rebutan hak, saling rebutan posisi dan kedudukan, dijamin keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat akan terwujud, saya berharap kepada Senkom yang jumlahnya 1,7 juta orang di seluruh Nusantara ini, untuk menjadi pelopor terwujudkan kamtibmas di negeri ini,” lanjutnya.
Lebih jauh orang nomor dua di Mabes Polri ini mengajak anggota senkom untuk mewujudkan kamtibmas dari hal-hal yang ringan, “Kamtibmas itu tidak muluk-muluk, cukup kita menanamkan dalam hati sanubari masing-masing untuk membahagiakan orang lain. Kamtibmas itu terwujud dari hal-hal yang mudah, di mulai dari lingkungan sekitar.”
Selain persoalan kamtibmas, wakapolri yang juga merupakan ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) itu menitipkan pesan kepada personil senkom untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu-lintas. Berdasarkan data di kepolisian, setiap tahun sebanyak 30.000 orang meninggal di jalan raya, karena pelanggaran aturan dan etika berlalu-lintas.
“Saya minta kepada seluruh anggota Senkom Mitra Polri untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu-lintas. Sekaligus mengawasi jalannya pemerintahan. Awasi pemerintah, awasi polisi, sebab pejabat publik adalah pelayan masyarakat yang wajib memuaskan pelanggan, pelanggannya siapa? Masyarakat adalah pelanggan yang wajib kami layani.”katanya.
Tiga hal pokok yang disampaikan wakapolri saat menutup diklatnas Telematika dan Kamtibmas Senkom Mitra Polri 2013 yang berlangsung tiga hari itu, yakni pemeliharaan kamtibmas dalam bingkai NKRI, penegakan hukum dan keselamatan berlalu-lintas.
Wakapolri mengakhiri pidato dalam upacara penutupan tersebut dengan menyampaikan 7 Budi Utama, yakni Jujur terpercaya, bertanggungjawab,visioner,disiplin,kerjasama, adil dan peduli, sambil mengucapkan selamat kepada seluruh anggota Senkom Mitra Polri.

Rabu, 22 Mei 2013

Harkitnas Jangan Sekedar Diperingati


Tanggal 20 Mei, setiap tahunnya diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Hari yang oleh  sejarah dicatat sebagai bangkitnya kesadaran dalam jiwa putra-putri bangsa, bahwa mereka memiliki bangsa yang besar dan kaya akan potensi sumber daya alam maupun manusia. 

Sebuah kebangkitan jiwa yang dimotori Sutomo, Sukarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro dan Douwes Dekker yang muncul karena adanya kesadaran jiwa sebagai pemilik Negara dengan potensi besar yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Kebesaran bangsa ini terbukti dengan begitu banyaknya bangsa lain yang ingin menguasai.

Namun rasa bangga itu hilang dalam jiwa generasi kita saat ini, mereka terlalu membanggakan bangsa lain, makin-kebarat-baratan makin merasa hebat. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya kita memiliki kekuatan budaya, yang merupakan kekuatan hati, modal semangat yang bisa menjelma menjadi apa saja, menjelma menjadi kekuatan ekonomi, kekuatan politik bernegara, bersosialisasi, dan lain-lain, yang semuanya adalah kekuatan besar, sebuah kearifan lokal asli milik bangsa kita.

Kita kehilangan sosok panutan
Banyak kalangan berpendapat, Indonesia saat ini kehilangan figur, kehilangan tokoh panutan. Dulu kita pernah memiliki figur negarawan, sebut saja Ir.Soekarno, Muh.Hatta, Kasimo, Natsir, dan Syahrir. Meskipun dalam diri mereka dibatasi ideologi yang tajam, namun dalam bernegara tetap mengedepankan tatakrama, kesantunan berpolitik, mengedepankan kepentingan bernegara. “Sekarang tidak ada sosok yang mampu mengarahkan generasi kita untuk kembali melihat potensi yang kita miliki,”kata Ki Roni Sodewo.

Ki Roni Sodewo yang masih merupakan generasi ke-7 dari Pangeran Diponegoro ini kepada penulis mengisahkan, bahwa saat ini Indonesia telah salah berkiblat, baik dalam hal ekonomi maupun politik terlalu meniru bangsa barat, bangsa yang memiliki budaya, system dan model yang sangat bertentangan dengan budaya dan kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang bangsa yang besar ini. Saatnya kita harus menyadarkan  generasi kita untuk kembali sadar, merubah kiblat yang keliru dan kembali mengagumi potensi dan kekayaan budaya yang kita miliki. 

Teringat kembali seruan Wakapolri, Komjen Nanan Soekarna di hadapan seribuan lebih personil Anggota Senkom Mitra Polri di Pondok Gede, pertengahan April 2013 lalu, “Boleh kita berwawasan global, silakan perluas cakrawala, kenali dunia luar seluas-luasnya, namun fikiran harus tetap nasional, sikap dan tindakan tetap lokal,” katanya.

Jenderal berbintang tiga itu mengatakan, kebersamaan dan kesatuan di negeri ini hilang disebabkan generasi muda yang lebih mengagung-agungkan budaya barat, meninggalkan kearifan lokal, semangat nasionalisme makin memudar dan hilang. 

Bukan sekedar peringatan
Saatnya bangsa ini kembali menata diri. Kebangkitan Nasional seharusnya tidak hanya diperingati, namun harus menjadi moment tumbuhnya kembali cinta budaya sendiri tanpa terpengaruh budaya asing. 

Kebangkitan Nasional adalah saat kita kembali bersatu dalam satu tujuan,bangkit berdiri dan bekerja, layaknya sapu lidi, bersatu padu dalam pemahaman sama untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan individu dan kelompok tertentu. 

Kebangkitan Nasional bukan sekedar diperingati, namun harus dapat terwujud dalam sebuah kepemimpinan yang mampu membawa rakyat menuju kesempurnaan Pendidikan, tersalurkannya secara berantai semua kearifan dari nenek moyang kepada generasi berikutnya, Sempurnanya keadilan, dan sempurnanya pemenuhan kebutuhan hidup.
(Khairil Anas/Sulsel 3A)

Senin, 20 Mei 2013

Mencari Satria Piningit


Masih sekaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional, hari yang diperingati setiap tanggal 20 Mei, yang ditandai dengan awal bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul sejak Indonesia dijajah selama 350 tahun. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Yang jelas bahwa kebangkitan nasional saat itu dipelopori oleh sejumlah tokoh yang memiliki pemikiran dan sikap membela kepentingan Negara. 

Dalam satu kesempatan, penulis berbincang dengan Dosen ilmu pemerintahan dan politik, Prof.Dr.Kausar Bailusy,MA dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Ia menyayangkan Negara yang sudah 67 tahun merdeka ini, belum mampu melahirkan sosok yang memiliki sikap dan jiwa membela Negara.

mereka negarawan bukan politisi
Yang lebih celaka lagi, katanya, partai politik yang seharusnya menjadi tempat menggodok kader pemimpin bangsa, ternyata tidak mampu membina calon pemimpin yang baik. “Partai politik justru menjadi tempat bersaing dan hanya menjadi tempat bagi sekelompok orang menyiapkan bosnya, urusan intelektual dan integritas tidak penting.
Padahal dari parpol itulah seharusnya lahir sosok-sosok yang mampu dan siap membangun Negara, bukan membangun kelompok semata,”katanya.

Lanjut penulis memperolah pernyataan senada dari Pakar ilmu sosial di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin,Makassar, Dr. H. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd., M.Si. Ia menyebutkan negeri ini meridukan sosok negarawan, seorang publik figur yang memiliki obsesi besar mengelola Negara, berwibawa, bijaksana, visioner, jujur dan berintegritas. “Cara dan pola pikir negarawan itu wajib mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas urusan pribadi dan kelompoknya, memang kita lihat setelah Soekarno, kita tidak lagi memiliki tokoh yang memiliki kepedulian besar untuk kemajuan bersama. Kalaupun ada, hampir pasti tidak memiliki kesempatan berkarya, atau mungkin belum,”kata Sukardi.

Sebagian pengamat menilai nasib bangsa ini celaka tigabelas, dari waktu ke waktu silih berganti tokoh demi tokoh tampil menjadi pemimpin negeri, namun semuanya adalah tokoh politisi, yang sibuk memikirkan partainya sendiri, lupa dengan urusan Negara, padahal ditangannya sedang tergenggam mandat rakyat.

Ki Roni Sodewo, kepada penulis menukil bait terakhir ramalan Joyoboyo tentang beberapa sifat seorang negarawan, 

"Nglurug tanpa bala, yen menang tan ngasorake, para kawula padha suka-suka, marga adiling pangeran wus teka, ratune nyembah kawula, angagem trisula wedha, para pandhita hiya padha muja, hiya iku momongane kaki Sabdopalon, sing wis adu wirang nanging kondhang, genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngresula kurang, hiya iku tandane kalabendu wis minger, centi wektu jejering kalamukti, andayani indering jagad raya, padha asung bhekti,"

Arinya : Pemberani, mendatangi musuh tanpa membawa tentara, menang tanpa merendahkan, rakyat bersuka cita, karena keadilan Tuhan telah datang di tangan pemimpin yang menghargai rakyat, memegang tombak bermata tiga (Trias Politika) dalam genggamannya. Bahkan para pemimpin agama juga mengidolakannya, dia adalah asuhan sabdopalon (Sabdopalon adalah masyarakat; artinya dia tumbuh dan dididik oleh kehidupan masyarakat) pernah dipermalukan tetapi tetap terkenal, tidak pernah mengeluh.

JK tetap senyum
Ki Roni Sodewo, yang merupakan generasi ketujuh dari Pangeran Diponegoro ini, menyebut dua tokoh di Indonesia saat ini yang memiliki sifat negarawan, yakni Jusuf Kalla dan Mahfud MD. “JK sering datang ke tempat konflik tanpa harus membawa tentara, beliau memberi solusi, di manapun dia hadir disambut dengan hati tenang, JK sangat menghormati orang kecil bahkan tidak segan mencium tangan anak-anak kecil, dan mahfud MD sangat faham trias Politika, kaum pemimpin agama manapun mau duduk satu meja dengan mereka, mereka bukan dari golongan ningrat, tetapi berhati ningrat, JK maupun Mahfud sering dipermalukan tetapi tetap tersenyum,”katanya.
(Khairil Anas/Sulsel 3A)

Sewa Vila

Sewa Vila
vila murah 2kamar