Rabu, 22 Mei 2013

Harkitnas Jangan Sekedar Diperingati


Tanggal 20 Mei, setiap tahunnya diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Hari yang oleh  sejarah dicatat sebagai bangkitnya kesadaran dalam jiwa putra-putri bangsa, bahwa mereka memiliki bangsa yang besar dan kaya akan potensi sumber daya alam maupun manusia. 

Sebuah kebangkitan jiwa yang dimotori Sutomo, Sukarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro dan Douwes Dekker yang muncul karena adanya kesadaran jiwa sebagai pemilik Negara dengan potensi besar yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Kebesaran bangsa ini terbukti dengan begitu banyaknya bangsa lain yang ingin menguasai.

Namun rasa bangga itu hilang dalam jiwa generasi kita saat ini, mereka terlalu membanggakan bangsa lain, makin-kebarat-baratan makin merasa hebat. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya kita memiliki kekuatan budaya, yang merupakan kekuatan hati, modal semangat yang bisa menjelma menjadi apa saja, menjelma menjadi kekuatan ekonomi, kekuatan politik bernegara, bersosialisasi, dan lain-lain, yang semuanya adalah kekuatan besar, sebuah kearifan lokal asli milik bangsa kita.

Kita kehilangan sosok panutan
Banyak kalangan berpendapat, Indonesia saat ini kehilangan figur, kehilangan tokoh panutan. Dulu kita pernah memiliki figur negarawan, sebut saja Ir.Soekarno, Muh.Hatta, Kasimo, Natsir, dan Syahrir. Meskipun dalam diri mereka dibatasi ideologi yang tajam, namun dalam bernegara tetap mengedepankan tatakrama, kesantunan berpolitik, mengedepankan kepentingan bernegara. “Sekarang tidak ada sosok yang mampu mengarahkan generasi kita untuk kembali melihat potensi yang kita miliki,”kata Ki Roni Sodewo.

Ki Roni Sodewo yang masih merupakan generasi ke-7 dari Pangeran Diponegoro ini kepada penulis mengisahkan, bahwa saat ini Indonesia telah salah berkiblat, baik dalam hal ekonomi maupun politik terlalu meniru bangsa barat, bangsa yang memiliki budaya, system dan model yang sangat bertentangan dengan budaya dan kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang bangsa yang besar ini. Saatnya kita harus menyadarkan  generasi kita untuk kembali sadar, merubah kiblat yang keliru dan kembali mengagumi potensi dan kekayaan budaya yang kita miliki. 

Teringat kembali seruan Wakapolri, Komjen Nanan Soekarna di hadapan seribuan lebih personil Anggota Senkom Mitra Polri di Pondok Gede, pertengahan April 2013 lalu, “Boleh kita berwawasan global, silakan perluas cakrawala, kenali dunia luar seluas-luasnya, namun fikiran harus tetap nasional, sikap dan tindakan tetap lokal,” katanya.

Jenderal berbintang tiga itu mengatakan, kebersamaan dan kesatuan di negeri ini hilang disebabkan generasi muda yang lebih mengagung-agungkan budaya barat, meninggalkan kearifan lokal, semangat nasionalisme makin memudar dan hilang. 

Bukan sekedar peringatan
Saatnya bangsa ini kembali menata diri. Kebangkitan Nasional seharusnya tidak hanya diperingati, namun harus menjadi moment tumbuhnya kembali cinta budaya sendiri tanpa terpengaruh budaya asing. 

Kebangkitan Nasional adalah saat kita kembali bersatu dalam satu tujuan,bangkit berdiri dan bekerja, layaknya sapu lidi, bersatu padu dalam pemahaman sama untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan individu dan kelompok tertentu. 

Kebangkitan Nasional bukan sekedar diperingati, namun harus dapat terwujud dalam sebuah kepemimpinan yang mampu membawa rakyat menuju kesempurnaan Pendidikan, tersalurkannya secara berantai semua kearifan dari nenek moyang kepada generasi berikutnya, Sempurnanya keadilan, dan sempurnanya pemenuhan kebutuhan hidup.
(Khairil Anas/Sulsel 3A)

0 komentar:

Posting Komentar

Sewa Vila

Sewa Vila
vila murah 2kamar