Tanggal 20 Mei, setiap tahunnya
diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Hari yang oleh sejarah dicatat sebagai bangkitnya kesadaran dalam
jiwa putra-putri bangsa, bahwa mereka memiliki bangsa yang besar dan kaya akan
potensi sumber daya alam maupun manusia.
Sebuah kebangkitan jiwa yang dimotori Sutomo, Sukarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro dan Douwes Dekker yang muncul karena adanya kesadaran jiwa sebagai pemilik Negara dengan potensi besar yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Kebesaran bangsa ini terbukti dengan begitu banyaknya bangsa lain yang ingin menguasai.
Sebuah kebangkitan jiwa yang dimotori Sutomo, Sukarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro dan Douwes Dekker yang muncul karena adanya kesadaran jiwa sebagai pemilik Negara dengan potensi besar yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Kebesaran bangsa ini terbukti dengan begitu banyaknya bangsa lain yang ingin menguasai.
Namun rasa bangga itu hilang dalam jiwa generasi
kita saat ini, mereka terlalu membanggakan bangsa lain, makin-kebarat-baratan
makin merasa hebat. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya kita memiliki kekuatan budaya,
yang merupakan kekuatan hati, modal semangat yang bisa menjelma menjadi apa saja,
menjelma menjadi kekuatan ekonomi, kekuatan politik bernegara, bersosialisasi,
dan lain-lain, yang semuanya adalah kekuatan besar, sebuah kearifan lokal asli
milik bangsa kita.
![]() |
| Kita kehilangan sosok panutan |
Banyak kalangan
berpendapat, Indonesia saat ini kehilangan figur, kehilangan tokoh panutan. Dulu kita
pernah memiliki figur negarawan, sebut saja Ir.Soekarno, Muh.Hatta, Kasimo,
Natsir, dan Syahrir. Meskipun dalam diri mereka dibatasi ideologi yang tajam,
namun dalam bernegara tetap mengedepankan tatakrama, kesantunan berpolitik,
mengedepankan kepentingan bernegara. “Sekarang tidak ada sosok yang mampu
mengarahkan generasi kita untuk kembali melihat potensi yang kita miliki,”kata
Ki Roni Sodewo.
Ki Roni Sodewo yang
masih merupakan generasi ke-7 dari Pangeran Diponegoro ini kepada penulis
mengisahkan, bahwa saat ini Indonesia telah salah berkiblat, baik dalam hal
ekonomi maupun politik terlalu meniru bangsa barat, bangsa yang memiliki
budaya, system dan model yang sangat bertentangan dengan budaya dan kearifan
lokal yang diwariskan nenek moyang bangsa yang besar ini. Saatnya kita harus menyadarkan generasi kita untuk kembali sadar, merubah
kiblat yang keliru dan kembali mengagumi potensi dan kekayaan budaya yang kita
miliki.
Teringat kembali seruan Wakapolri,
Komjen Nanan Soekarna di hadapan seribuan lebih personil Anggota Senkom Mitra Polri
di Pondok Gede, pertengahan April 2013 lalu, “Boleh kita berwawasan global,
silakan perluas cakrawala, kenali dunia luar seluas-luasnya, namun fikiran
harus tetap nasional, sikap dan tindakan tetap lokal,” katanya.
Jenderal berbintang
tiga itu mengatakan, kebersamaan dan kesatuan di negeri ini hilang disebabkan generasi
muda yang lebih mengagung-agungkan budaya barat, meninggalkan kearifan lokal,
semangat nasionalisme makin memudar dan hilang.
![]() |
| Bukan sekedar peringatan |
Saatnya bangsa ini kembali menata diri. Kebangkitan
Nasional seharusnya tidak hanya diperingati, namun harus menjadi moment tumbuhnya
kembali cinta budaya sendiri tanpa terpengaruh budaya asing.
Kebangkitan
Nasional adalah saat kita kembali bersatu dalam satu tujuan,bangkit berdiri dan
bekerja, layaknya sapu lidi, bersatu padu dalam pemahaman sama untuk
kepentingan bersama, bukan kepentingan individu dan kelompok tertentu.
Kebangkitan
Nasional bukan sekedar diperingati, namun harus dapat terwujud dalam sebuah
kepemimpinan yang mampu membawa rakyat menuju kesempurnaan Pendidikan, tersalurkannya
secara berantai semua kearifan dari nenek moyang kepada generasi berikutnya,
Sempurnanya keadilan, dan sempurnanya pemenuhan kebutuhan hidup.
(Khairil Anas/Sulsel 3A)




0 komentar:
Posting Komentar